Perluas Pengenalan Budaya Lokal, Mahasiswa Sasindo FBSB UNY Dokumentasikan Wayang Wong di Desa Manggong

SLEMAN – Upaya mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas dilakukan Arsy Zhea Haq (NIM 23021030106), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melalui pembuatan video profil wayang wong Paguyuban Ngesti Budoyo di Dusun Manggong, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. 

Video tersebut dibuat sebagai media dokumentasi sekaligus sarana untuk memperkenalkan keberadaan wayang wong Manggong kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Proses pembuatan video berlangsung sejak akhir Juli hingga akhir Agustus 2026 dengan melibatkan warga dan pengurus Paguyuban Ngesti Budoyo.

Wayang wong di Dusun Manggong memiliki sejarah yang cukup panjang. Kesenian tersebut mulai berkembang sekitar tahun 1960-an. Dalam perjalanannya, kegiatan wayang wong sempat berhenti selama kurang lebih 12 tahun sebelum kembali dihidupkan oleh masyarakat pada 2021. Meskipun kembali aktif, keberadaan wayang wong Manggong masih belum banyak diketahui masyarakat di luar dusun. Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dalam melanjutkan kesenian tradisional tersebut juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat.

Untuk mengenalkan kesenian tersebut, Mahasiswa KKN memulai proses pembuatan video dengan melakukan observasi lapangan dan menyusun naskah. Ia kemudian melakukan wawancara dengan dua narasumber, yaitu Sutopo dan Benu Hartoyo, untuk memperoleh informasi mengenai sejarah, perkembangan, serta makna wayang wong bagi masyarakat Manggong. Pengambilan gambar dilakukan beberapa kali selama Juli hingga Agustus 2026. Setelah seluruh materi terkumpul, proses dilanjutkan dengan penyuntingan hingga menghasilkan video profil yang kini telah dapat disaksikan melalui YouTube.

Sutopo, salah satu tokoh masyarakat Manggong, menjelaskan bahwa wayang wong mulai dirintis oleh masyarakat pada dekade 1960-an. Pada masa tersebut, pilihan hiburan dan kegiatan kesenian di dusun masih terbatas.

“Saat itu hiburan dan kesenian di dusun masih sangat terbatas,” tuturnya.

Sejak awal perkembangannya, wayang wong Manggong melibatkan berbagai unsur masyarakat. Tokoh masyarakat, tokoh seni, warga, dan perangkat dusun turut berperan dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut. Dalam perkembangannya, kegiatan kesenian juga mendapat dukungan melalui koordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Sementara itu, Benu Hartoyo, pelatih sekaligus dalang Paguyuban Ngesti Budoyo, melihat wayang tidak hanya sebagai bentuk hiburan. Menurutnya, pertunjukan wayang juga membawa nilai yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat.

“Wayang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga petunjuk,” jelasnya.

Benu menambahkan bahwa keberlangsungan wayang juga berkaitan dengan upaya menjaga budaya Jawa agar tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

Salah satu lakon yang dipentaskan Paguyuban Ngesti Budoyo adalah Sesaji Raja Suya. Lakon yang bersumber dari kisah Mahabharata tersebut berpusat pada tokoh Prabu Jarasandha, raja Kerajaan Bajra. Lakon ini kembali dipentaskan pada 15 Agustus 2026.

Pementasan tersebut membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Para pemain tidak hanya perlu memahami karakter tokoh yang diperankan, tetapi juga mempelajari dialog dan bahasa yang digunakan. Latihan dilakukan agar gerakan tari dapat selaras dengan iringan karawitan dari grup Sedya Laras.

Melalui pembuatan video profil tersebut, Mahasiswa KKN ini berharap keberadaan wayang wong Manggong dapat lebih dikenal oleh masyarakat di luar dusun. Dokumentasi ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu media yang memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda dan mendorong mereka untuk mengenal serta terlibat dalam kegiatan seni dan karawitan.

Kegiatan tersebut sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan masyarakat berkelanjutan, yang salah satunya berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.

Dengan adanya video profil ini, sejarah dan aktivitas Paguyuban Ngesti Budoyo tidak hanya terdokumentasi dalam bentuk pertunjukan, tetapi juga dapat diakses masyarakat yang ingin mengenal keberadaan wayang wong di Dusun Manggong.(Arsy Zhea/Mhs)

Label Berita: